Tampilkan postingan dengan label #MingguBerpuisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #MingguBerpuisi. Tampilkan semua postingan
Minggu, 10 Mei 2015
Minggu, 03 Mei 2015
#MingguBerpuisi: Persembahan Puisi Untuk Pemilik Sepi
Galau
Hantam pada lembaran
kardus lusuh
Mencekam keadaan yang
layaknya tanpa dingin
Iringan kolintang
nyanyikan lagu pemanggil
Roh yang sejak tadi
sudah gentayangan
Ku gubah bait pertama,
ia meronta
Ku ganti bait ketiga, ia
histeris
Geraknya berantakan di
sudut ruangan
Lalu bagaimana aku
mendapati angan
Damar!
Damarku…
Ku ingin kembali pada
malam kita bersama
Berjabat tangan dan
menyebut nama
Ingatkah engkau deret
bulan memperhatikan
dan tetap saja kau
mencari bintang
Kau ingin menunjukkan,
tapi mendung adalah penghalang
Sejenak saja mampu
memberi kesan
Dari lumbung padi damarku
sayang
Ku mau kamu yang itu
Hentikan damar, jangan
lumpuhkan hatiku
dan kembali sadarkanku
Ada
ia yang ku pilih
(Puisi oleh sahabat pena gobloghaydar: Kuaci @Kuaci78)
Minggu, 26 April 2015
Kau Mencariku?
Aku dinelangsa oleh asa
yang percuma
Setiap hariku, hanya
memberi derita penyesak dada
Perjalanan waktuku,
berjalan sebagai penyayat jiwa
Kau tahu? Ini ulah
kesetian yang di dusta
Sekarang, kau mencariku?
Terkadang…terbesit hati
yang merindumu
Tapi lebih sering aku
membencimu
Sebab aku yang selalu
setia menjaga hatimu,
kau keruhkan dengan
dustamu
Kau abaikan, tetap
mengabaikanku
Aku menangis di
belakangmu, menangis berberang-berang
Kau berpura-pura tak mendengar,
atau memang kau tuli
Aku tetap menangis, kau
masih tuli
Kau buta, membiarkanku
tersungkur di hadapanmu
Sadarkah? Kau yang
menjatuhkanku.
Kau jatuhkan, lalu
pergi. Dasar pecundang!
Kau berjanji setia, lalu
mendua. Dasar pendusta!
Pecundang dan pendusta,
itu kau
Aku memang membencimu, tapi
kadang merindu
Aku tersakiti, tapi
masih mencintai
Tapi aku tak ingin
bodoh, kembali kepadamu bodoh!
Aku akan biarkan membatu
hatiku
Dia telah pergi
mendustamu
Sekarang, kau mencariku?
Menunggu di depan pintu
lalu berulang kau berjanji
Dengan mudah kau
berjanji, lalu mendusta,
dan kini kau berjanji
lagi
Kau berjanji, setelah
kau tahu rasa janji yang di dusta
Aku buta, tak melihatmu
yang kembali
Aku tuli, tak mendengar
suara –suara penyesalanmu
Hatiku membatu, percuma
kau mengemis
Percuma kau berjanji,
aku tak berharap lagi
Sekarang kau mencariku?
Aku telah pergi!
Aku tidak lagi punya
rasa untuk pendusta
Kini kau telah rasakan
menjadi aku
Dan aku, telah menjadi
kau yang dulu.
Langganan:
Postingan (Atom)


