Kamis, 21 Januari 2016

Haruskah Ada Perdebatan? [Part 2]

#Kedua: berdebat dengan orang tua.
Debat Pacar Gebetan Haydar Iskandar
Perdebatan dengan orang tua adalah perdebatan yang sering banget terjadi. Dan posisi sebagai anak bisa dibilang posisi yang rawan dan nggak enak. Rawan, karena kalo ngelawan khawatir disebut anak kurang ajar. Nggak enak, karena seolah-olah kita dituntut untuk mengikuti apa yang diinginkan oleh orang tua. Sekalipun argumentasi kita udah jos, tapi tetep aja kadang orang tua ‘Nggak peduli’. Tapi, nggak sedikit orang tua yang mengerti dengan keinginan anaknya dan memenangkan argumentasi anaknya kalo emang hal tersebut bersifat positif dan berdampak kebaikan (Orang tua gue nih).

Dan yang sering terjadi saat perdebatan dengan orang tua adalah gini.

Contoh kasus:
(Situasi saat makan malam)

Bokap : Gimana sekolahnya? Lancar?
Kalian : Lancar.
Bokap : Bagus. Setelah lulus SMA nanti, kamu harus ngambil Fakultas Kedokteran.
Kalin   : Kenapa harus, Yah? Aku nggak minat.
Bokap : Pokoknya kamu harus ngikut dengan mau orang tua.
Kalian : Loh, ini namanya nggak adil, Yah. Keinginan Ayah itu bukan minat aku. Aku nggak bisa.
Bokap : Mulai berani ngelawan orang tua, ya!
Kalian : Aku bukan mau ngelawan Ayah, tapi aku juga punya minat dan cita-cita sendiri.
Bokap : Siapa yang mengajarimu kurang ajar seperti ini?
Kalian : Yah, aku hanya gak minat dengan Fakultas yang Ayah paksakan ke aku.
Bokap : STOP! Kamu ikuti kemauaan Ayah, atau Ayah nggak mau membiayai kuliahmu!

Sadar nggak, orang tua kita memiliki setidaknya tiga kalimat ampuh yang ngebuat kita nggak bisa berdebat dengan mereka dan akhirnya kita harus menerima kekalalahan kita. Sebagai anak, kita nggak mau dong disebut sebagai anak durhaka dan kita juga nggak mau dong selalu mengikuti keinginan mereka di luar kemampuan kita. Salah satunya adalah yang sering terjadi, orang tua menjadi penentu cita-cita kita. Padahal seharusnya, kitalah yang bertindak sebagai penentu cita-cita kita sendiri. Setuju, nggak?

Memang, pada dasarnya orang tua akan memberikan yang terbaik kepada anaknya. Ya, gue yakin itu. Tapi sedikit sekali orang tua jaman sekarang yang memahami dan mengenal anaknya, sehingga apa yang dianggap baik baginya merupakan yang sebaliknya bagi kita sebagai anak.

Tapi, kita sebagai anak harus bisa mengendalikan emosi dan menghargai keinginan orang tua.  Jangan sampek ngelawan dan berkata yang nggak aturan ke orang tua kalian, justru akan mendapat murka Tuhan. Percuma dong jadinya. Jadi, beri penjelasan dengan sabar dan lembut, setelah itu buatlah mereka percaya. Lambat laun orang tua kita akan luluh hatinya (buktinya, orang tua gue gitu). HARGAI dan HORMATI orang tua kalian! (cieee bijak).

#Ketiga: berdebat dengan saudara.
Berdebat debat arti debat dengan pacar saudara keluarga Haydar Iskandar
Punya adik? Punya kakak? Yang nggak punya kakak atau adik, mending di next aja ke bagian #empat, karena kalian nggak akan ngerti. Atau, minta dibikinin adek dulu ke bokap-nyokap kalian, setelah adeknya selesai dibikin, datang lagi ke blog ini. Tapi kalo kalian udah dua bersaduara, nggak usah minta adek lagi. Ingat, 2 anak cukup! Laki perempuan sama saja (Iklan).

Di keluarga gue, gue adalah anak pertama dan punya empat ADEK! Kalian pasti akan bilang, “Sok-sokan ngajak orang lain ikut program KB, tapi bapak lo sendiri anaknya lima!” Coba aja gue lahir sebelum bokap-nyokap gue nikah, maka pasti gue bilangin ke bapak gue jangan bikin anak banyak-banyak, 2 anak cukup!

Sebagai kakak, gue selalu dituntut untuk ngalah dan memberi contoh yang baik ke adek gue. Di keluarga kalian juga gitu, kan? (yang merasa jadi kakak). Dan terkadang, adek kita suka manfaatin peluang itu. Dan itu yang nggak gue suka, walau sebenernya gue sayang ke adek-adek gue. Jadi, seperti ini contoh kasus yang terjadi:

Contoh kasus:
(Situasi sedang nonton tv)

Adek   : Kak, aku pengen nonton film Upin dan Ipin
Kakak : Tunggu ah, film kesayangan kakak belum selesai
Adek   : Aaaaa… Aku maunya sekarang, nanti keburu selesai
Kakak : Besok masih ada, Upin-Ipinnya akan tetep gitu-gitu aja. Kalo film yang ini besok episodnya udah berubah
Adek   : Gak mau! Maunya sekarang!
Kakak : Bawel! Tunggu dong, lagian duluan kakak yang nonton!
Adek   : Awas aku bilangin Mama!
Kakak : Bilangin aja!
Adek   : Ma…. Kakak ngelarang aku nonton film Upin-Ipin..
Mama : Kakak! ngalah dong sama adeknya. Jangan kayak anak kecil aja
Adek   : SYUKUUUUURIN!!!

Itu masih contoh kecil. Kebayang dong kehidupan seorang kakak yang selalu ngalah ke adeknya itu gimana? Apalagi adeknya empat, kebayangkan? Gak usah dibayangin, entar nyesel udah ngebayangin!

Emang, pada dasarnya kakak harus ngalah, tapi sebagai adek juga harus menghormati dan menghargai yang lebih tua. Kakak memberi contoh yang baik, adek mengikuti dengan baik. Adek menghormati kakak, kakak menghargai adek. Paham? (“Pahaaaaam”, jawab keempat adek gue serempak).

#Keempat: berdebat dengan mantan pacar.

To be continue….



Jadilah pembaca setia saya, siapa tahu jodoh!

1 komentar:

  1. Wah gasabar nih kelanjutan yang tentang "mantan pacar" :))

    -jevonlevin.com

    BalasHapus